Selasa, 05 Juli 2011

CBR 250R

H

onda CBR 250R, Putar Otak Akibat Tabrakan

Ada yang bingung begitu lihat CBR 250R milik Suwandi, warga Villa Mutiara, Serpong, Tangerang. Apa pasal? Desain bodi CBR250R yang katanya laris itu berantakan akibat tabrakan.

Bukan tabrakan beneran, Cuy! Tapi antara garis fairing kanan-kiri dan tangki seperti enggak ketemu. Pertemuan fairing dan tangki juga seperti ditabrak alias kayak dipaksakan.

“Enggak harmonis, jadi masalah pas mendesain bentuk stiker,” kesal Agus Wicaksono dari Witjax Modizigner, spesialis cutting sticker yang bermarkas di Cipondoh, Tangerang, Banten itu.

Itu jadi tantangan Wicak. Apalagi, sebelumnya dia hanya fokus memainkan stiker di CBR250R atau Ninja 150.

Kalau di generasi Kawasaki, mendesain lembaran tempel supaya cocok dengan garis desain bodi lumayan simpel. Sederhana tapi punya kesulitan tersendiri supaya enggak asal tempel.
“Berbeda dengan fairing dan tangki Kawasaki Ninja 250R. Lekukan tangki dan pinggir fairing yang dekat tangki segaris. Gampang merancang cutting stickernya. Model grafis bisa masuk dan bagus,” yakin Wicak yang juga ketua Ninja Tangerang Organisation (NITRO).

Siasatnya desain stiker yang dirancang Wicak untuk CBR250R lebih dulu dipasang pada fairing. Garis rancangannya pun cenderung memblok baju CBR250R. Setelah itu baru dibikin grafis yang didesain mengikuti lekukan fairing.

“Tangki juga diperlakukan sama. Tangki diblok terlebih dahulu, baru kemudian dirancang motifnya. Pastinya akan menyisakan sedikit warna tangki asli motor,” urai Wicak yang akan memilih stiker silver menyesuaikan pelek CBR250E.   

Pengerjaannya dirancang terlebih dahulu di lembar stiker berlabel Oracle pada tangki. Lalu, di komputer juga dibuatkan dimensi kertas tempel untuk ukuran yang bisa menutupi tangki. Baru deh kemudian dibikin grafis.

Cara yang dilakukan builder berambut lurus itu adalah siasat paling aman. Stiker enggak langsung ditempel pada tangki baru kemudian diiris cutter untuk pembuatan grafis. Pastinya itu bisa merusak cat. Melainkan, stiker yang ditempel sudah memiliki motif yang diinginkan.

“Sekarang jadi dominan silver. Mengikuti warna pelek. Kelir aslinya jadi grafis yang ada pada tangki dan fairing,” tunjuk modifkator berkacamata itu. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : IRC 110/70-17
Ban belakang : IRC 140/7017
Spion : Koso
Knalpot : Yoshimura

dongkrak peforma suzuki shogun

Dongkrak Performa Suzuki Shogun Axelo 125 Tidak Perlu Bore Up!


 Peningkatan tenaga dipantau terus lewat dyno
Buat mendongkrak performa Suzuki Shogun Axelo 125 kesayangan, enggak perlu menaikan kapasitas mesin lho. Iya, maksudnya lewat langkah bore up gitu! Dengan kapasitas isi silinder yang masih sama, bisa kok mengejar kenaikan power hingga 3,8 dk.

Seperti dilakukan Robby Wahyudi di pacuan yang baru saja ditebusnya beberapa waktu lalu. “Sebelum Axelo ini, pakai Shogun 125. Cara ini sebelumnya juga sudah diterapkan di Shogun. Jadi tinggal copy paste aja,” ujar pria yang tinggal di Pamulang, Tangerang.

Proses pengerjaan, dilakukan Freddy A. Gautama. Dia orang pemilik workshop Ultraspeed di Jl. H Mencong, No. 42, Ciledug, Tangerang. Buat meningkatkan power, pria yang juga punya mesin dyno ini menyentuh beberapa part vital.

Pertama, dari sisi piston. Tujuannya biar dongkrak kompresi. Piston pun dipilih merek Izumi yang biasa diaplikasi tunner bakal mengisi jeroan bebek balap. “Diameternya tetap ukuran standar, 53,5 mm. Tinggi dome disesuaikan,” aku Freddy.

 Cukup knalpot Satria F-150
Maklum, karena kepala dan blok silinder di Axelo ini tidak mengalami pemapasan. Jadi, dome juga tidak boleh tinggi biar piston enggak beradu klep. “Dome piston dibikin jadi 2 mm,” timpal Choky, salah satu mekanik Ultraspeed yang bantu proses penggarapan.

Coakan di kepala piston juga disesuaikan dengan klep yang lift-nya ikut dinaikkan. Tentu biar enggak mentok. Kenaikan lift klep ini juga pengaruh dari pemapasan kem. “Untuk durasinya agak lupa. Tapi tiap bumbungan dipapas sekitar 1 mm aja kok,” urai Choky lagi.

Naiknya lift klep, butuh penyesuaian juga di bagian per klep. Biar sedikit lebih keras dan cegah floating di rpm tinggi, per standar digantikan fungsinya oleh per klep merek TK. Lewat ubahan ini, kini kompresi di engine sentuh 11 : 1.

Untuk dongkrak pengapian, CDI BRT ikut dipasang. Pakai tipe Dual Band, tapi aplikasi dari tipe Shogun 125. “Perubahan di soket aja. Axelo, soket CDI-nya mirip dengan Suzuki Smash,” pasti Freddy.

Setingan terakhir, terletak di pengabut bahan bakar. Hanya sebatas penggantian pilot-jet dan main-jet. Standarnya Axelo, pakai pilot 15 dan main-jet 95. Sekarang sudah pakai ukuran 17,5 dan 102,5.

Mau coba?

 Naik 3,8 dk! Asalnya 7,02 dk jadi 10,81 dk
Ogah Berisik
Meski tenaga pacuan melonjak, tapi Robby ogah tampil berlebih. Iya, tampil untuk pamer ubahan di mesin. Mungkin karena di punya karakter low profile ya.

Maka itu, urusan saluran buang dipakai punya standar. Tapi, standarnya milik Suzuki Satria F-150 yang punya volume tabung lebih besar. Untuk bagian leher, Robby aplikasi pipa tiga ukuran. Pertama, 24 mm. Lalu bagian tengah dipasang 26 mm. Dan 28 mm untuk pipa yang ke silencer.

“Harga silencer yang baru sekitar Rp 400 ribu. Sekennya Rp 200 ribuan,” kata pria yang mau turing bersama Axelo-nya ke Magelang, Jawa Tengah untuk naik gunung Merbabu ini.

lepas Pair spin

Lepas PAIR Suzuki Spin 125

Suzuki Spin dilengkapi PAIR (Pulsed Secondary Air Injection System). Fungsinya  menginjeksikan udara segar dari filter udara menuju lubang buang. Jadinya mengurangi kepekatan gas buang. Bikin mesin jadi ramah lingkungan.

Namun seiring umur pemakaian malah jadi tidak maksimal. Seperti yang dialami Wahyudi, pemilik Spin 2007. “Saat tutup gas, knalpot cenderung nembak-nembak malah pernah mesin jadi susah dihidupkan,” jelas pria tinggal di Cinere, Depok.  

“Akibat saluran kotor dan membran PAIR sudah renggang,” yakin Aris  dari BJ Speed di Krukut, Depok yang kerap menemui masalah ini pada Spin.

 Kondisi ini juga, menurut Aris meyebabkan konsumsi bensin jadi lebih boros. “Solusi aman PAIR harus dilepas,” tambah mekanik jangkung yang menyakinkan kalau lepas PAIR tidak pengaruh terhadap kinerja mesin.

Untuk melepas PAIR ada beberapa tahapan. Tahap awal lepas slang yang berhubungan dengan intake karburator. Setelah itu lepas slang yang nempel di vacuum reed valve atau membran di tutup kepala silinder.

 Eits masih belum kelar. Ada beberapa tahapan lagi yang harus dilakukan. Tutup lubang pada intake manifold tadi dengan slang kecil yang sudah dipampet baut. Selanjutnya akali vacuum reed valve tadi biar tidak berfungsi lagi.

Lanjut! “Berikutnya mepas rumah membran dengan obeng kembang. Selanjutnya balik posisi bagian bilah membran agar kondisinya rapat sehingga tidak ada udara dari luar masuk,” tegas Aris yang memastikan kalau langkah ini akan bikin konsumsi bahan bakar Spin jadi lebih irit.

yamaha xeon menggoda

Yamaha Xeon 125, Gaya Pertama Menggoda


Bagi yang punya Yamaha Xeon 125 pasti masih sayang untuk modif secara total. Tapi, bagi yang emang gatelan pakai motor standar boleh coba trik yang dilakukan Agus Ismanto dari Muntilan ini.

Dengan permainan sederhana dia sudah berani unjuk diri di arena contezt. "Karenanya hanya pasang sedikit variasi yang sifatnya bolt-on," kata Agung tentang skubek 125 cc miliknya ini. Misalnya saja mengganti rem depan pakai ukuran piringan yang lebih mempunyai motif berbeda. Kalau secara ukuran sih tetap sama dengan aslinya.

Begitu juga sokbraker depan. Merek R-Pro saat ini banyak yang mencari karena memang belum banyaknya merek variasi yang bisa dipakai oleh Xeon 125. "Sementara itu untuk pelek pakai yang asli, hanya cat supaya terlihat lebih menarik," tukasnya lagi. Permainan cat ini memang menjadi jurus utama yang ingin ditampilkan oleh Agung.

"Kami utamakan ada motif chequered flag atau bendera finish yang ada di balap, sebab Xeon itu kan identik dengan kecepatan," tambah pria yang turun di kelas automatic fashion standar saat berlangsungya Yamaha Cuzztomatic 3 region 2 di Jogja.

Warna merah putih mendominasi seluruh cover bodi. Grafis juga mengikuti motif yang dipakai Yamaha saat ulang tahun mereka yang ke-50. Sepertinya Agung jeli dalam pemilihan detail sehingga motor terlihat harmonis. Lihat saja per sok belakang juga dipilih merah, begitu juga footstep boncenger.

variasi yamaha xeon

Variasi Yamaha Xeon Asli Pabrikan


Konotasi variasi biasanya barang bikinan di luar pabrik alias aftermarket. Banyak konsumen terutama motor baru yang enggan mengganti dengan barang variasi, lantaran itu tadi. Enggan motornya disusupi barang di luar original equipment manufacture alias bikinan pabrik. Honda, Yamaha dan Suzuki membuat variasi asli pabrikan untuk skubeknya. Tampilannya gak kalah oke lho.

Tuas Rem Depan
Handle Brake Lever ini memiliki beberapa warna. Yakni merah, biru. Harga yang ditawarkan Rp 150 ribu per piece.

“Modelnya lebih gaul dan tuasnya juga kuat,” kata Pipit dari bagian spare-parta DDS Yamaha, Jakarta

Balancer
Alat penyeimbang setang asli ini memiliki warna senada, hitam. Bagi skubeker yang ingin tampilan keren, bisa menggunakan balancer berlabel YMAX seharga Rp 80 ribu ini. “Tinggal pasang saja kok,” tegas Pipit yang beralamat di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Gantungan Barang
Agar lebih memudahkan pengendara membawa barang bawaannya, Yamaha membuat sebuah gantungan barang yang letaknya ada di bawah setang. Harga gantungan ini ditawarkan Rp 50 ribu. “Tas atau plastik belanjaan tinggal ditaruh aja,” urai Pipit.

komprasi bagasi

Komparasi Bagasi Xeon-Hayate-Spacy, Kapasitas dan Penempatan Helm


 Posisi menentukan muat atau tidaknya helm
Punya bagasi besar tentu ada kelebihan yang bisa diusung Yamaha Xeon 125, Suzuki Hayate 125 dan Honda Spacy Helm In. Tak hanya sebatas membawa barang bawaan, tapi juga bisa berfungsi menyimpan helm ketika parkir. Jadi, helm gak digondol maling.

 Tidak semua tipe helm muat di setiap varian. Ketimbang tebak-tebakan yang enggak jelas, langsung aja dicoba. Helm pakai merek KYT. Half face tipe Sportivo sedang full face pakai C-4 Tech.

XEON 125
Meski memiliki volume bagasi sekitar 13 liter, tapi ruang yang diberikan kurang luas untuk bisa menampung helm full face. Bagasi skubek Yamaha 125 cc ini, hanya sanggup simpan helm half face.

 Konsol depan Xeon. Mewah!
Posisi atau cara meletakkan helm juga terbatas. Hanya satu posisi. Yaitu, menghadap ke depan (arah setang). Selain itu, kaca helm juga harus dalam keadaan terangkat. Kondisi ini punya potensi visor tertekan jok. Penempatan yang kurang leluasa ini dikarenakan adanya konsol di tengah bagasi. Part ini yang akhirnya membuat visor jadi tidak bisa menutup.

HAYATE 125
Hayate 125 yang memiliki kapasitas bagasi sekitar 17,7 liter ini sedikit lebih leluasa ketimbang Xeon 125. Artinya, ada beberapa pilihan posisi buat menempatkan helm. Tapi maaf, yang muat di bagasi matik 125 cc ini hanya tipe half face.

 Konsul Hayate. Ikut desain bodi
Buat menampung tipe helm full face, bagasi terkesan tanggung. Andaikan terdapat coakan di jok atau coakan bagasi lebih dalam, helm besar itu bisa saja tersimpan. Begitunya posisi helm half face yang bisa disimpan harus dalam posisi miring. Miring dari sisi kanan atau kiri. Jika posisi biasa, jok tak bisa menutup.

SPACY HELM IN
Bagasi yang dimiliki tergolong paling besar. Sebab, ruangan di bawah jok yang memiliki volume sebesar 18 liter ini mampu menampung helm half face bahkan full face. Salah satu kelebihan yang tidak dimiliki kedua kompetitor. Makanya juga, matik baru Honda ini sudah pakai embel-embel Helm In di belakang nama.

 Konsol Spacy. Lumayan dalam
Kondisi ini disebabkan tingginya ruang di bawah jok. Sehingga tentunya akan menjadi lebih luas. Tapi, posisi meletakkan pelindung kepala, hanya terbatas pada satu posisi. Sepertinya bagian dasar bagasi memang sudah didesain untuk bisa memuat lingkar bawah helm. 

nouvo,xeon,skywive = ?

Virus Modif Yamaha Nouvo, Sepatbor Skywave dan Batok Xeon

Absen dulu, Abdul Rosyad (Bedul), M. Rizki Andrian (Rian), Ahmad Zaelani dan Zaky Said. Mereka bukan grup lawak macam empat sekawan yang dipelopori Derry, Ginanjar, Emen dan Komar. Tapi, mereka sahabat yang punya satu visi di urusan modifikasi.

“Mungkin karena tinggal di satu daerah yang sama. Yaitu Condet. Kumpul pun, di bengkel sama. Makanya akrab,” jelas Bedul sembari bilang kalau mereka berempat langganan nongkrong di workshop Sepele Kalee di Condet, Jakarta Timur.

Tapi, sebenarnya mereka ini enggak janjian untuk mengubah tampilan motor dengan garis besar modif yang mirip atawa kembar. Tampilan, tercipta seiring waktu berjalan.

"Apalagi janjian, enggak ada tuh. Mungkin karena latahan juga kali ya,” canda Ahmad yang diamini Zaky. Maksudnya latahan, jika Rian pasang sesuatu part baru di Nouvo-nya dan terlihat bagus maka ketiga temannya juga ikut pasang.

"Akhirnya baru ketahuan kalau selera kita sama. Tapi, itu cuma sebatas modif motor aja. Karena kalau selera wanita, tentu beda dong,” kelakar Rian. Nah, mau tahu apa beda dan persamaannya?

Sepatbor Skywave

Mereka ber empat ini masih memiliki kekompakan lainnya. Yaitu dalam pemakaian sepatbor depan. Yup, part penghalau cipratan air dan kotoran dari roda depan sudah tidak pakai bodi part standar Nouvo Z. Kini, komponen itu diganti milik Suzuki Skywave 125. “Bentuk lebih harmonis dengan bodi Vietnam. Kalau gak percaya, coba aja ganti,” kompak Rian, Ahmad, Zaky dan Bedul.


Perbedaan paling mendasar antara sepatbor Nouvo Z dengan Skywave terletak di permukaan atas. Jika milik Nouvo Z ada semacam coakan, maka matik Suzuki itu tidak. Harga sepatbor Skywave sekitar Rp 120 ribu. Pemasangan tidak perlu ubah atau bor sepatbor segala. “Posisi lubang baut di sepatbor dengan lubang di tabung sok sama. Bolt-on, tinggal pasang aja kok,” aku Bedul.

Virus Cover Setang Yamaha Xeon, Fresh Hanya Rp 750 Ribu

Buat yang tertarik aplikasi cover setang Yamaha Xeon di Yamaha Nouvo Z, silakan dan silakan aja. Soalnya selain bikin tampilan terlihat lebih segar, namun dana yang dikeluarkan lumayan banyak lho. Sekitar Rp 750 ribu. Toh, sama seperti membeli pelek jari-jari 17 inci branded.


“Tapi untuk pakai batok Xeon ini, harus sekaligus comot panel spidometernya segala ya. Karena bukan cuma cover depan aja, tapi cover belakang juga pakai Xeon,” kompak Achmad Zayadi dan Abdul Kadir dari Dodot Paint di Jl. Raya Condet RT 01/ 02, No. 14, Condet Balekambang, Jakarta Timur.

Uang Rp 750 ribu yang dikeluarkan itu, sudah termasuk untuk pembelian spidometer dan cover pendukung lainnya. Maklum, Xeon memang memiliki banyak bagian yang terpisah untuk urusan setang ini. Makanya, agak banyak juga yang mesti dibeli.

Begitu juga setang. Setang Nouvo ditanggalkan alias ditinggalkan. Sebab untuk aplikasi batok ini, kudu aplikasi setang Xeon juga lho. “Karena Xeon banyak memiliki dudukan pemegang cover. Ketimbang banyak main las untuk bikin dudukan baru, lebih baik sekalian aja,” bilang Achmad akrab dipanggil Dodot.

Tapi, buat pemasangannya, mengharuskan ada seikit pemotongan. Terutama untuk dudukan setang di as komstrir. Setang Nouvo bagian bawah yang untuk pemegang dudukan ke as komstir dipotong sekitar 3 cm. Begitu juga setang Xeon yang dijual Rp 60 ribu. Kemudian, dudukan setang Nouvo dilas lagi ke setang Xeon.

Selesai memasang setang Xeon di as komstir, selanjutnya sobat tinggal merrakit cover setang lainnya. Termasuk visor yang dijual Rp 30 ribu itu. “Kabel spidometer juga bisa langsung pasang. Dudukannya sama kok,” ungkap Dodot yang bisa dicalling lebih lanjut di (021) 94543166.